Dampak Negatif BBM Bersubsidi

By rian121285

Antrean panjang akibat kelangkaan BBM di sejumlah daerah di Indonesia makin parah dari hari ke hari. Sayangnya, hingga hari ini pemerintah masih belum dapat memutuskan kebijakan macam apa yang akan ditempuh terkait dengan subsidi BBM.

Subsidi BBM dan Disparitas Harga
Selama ini masyarakat melihat kelangkaan BBM akibat masalah kekurangan pasokan, sehingga berakibat munculnya tragedi panic buying. Aksi ini dilakukan dengan beramai-ramai mendatangi SPBU terdekat dan memborong BBM dengan jumlah yang tidak wajar. Banyak orang menyalahkan perilaku demikian, tapi tidak banyak yang menyadari bahwa masalah sebenarnya dari kurangnya pasokan ini bukanlah akibat panic buying itu, melainkan akibat penyalahgunaan (moral hazard) dari pelaku ekonomi yang memanfaatkan jauhnya disparitas (perbedaan) harga BBM bersubsidi dan non-subsidi.

Ambil contoh, harga BBM (bensin, solar) bersubsidi saat ini adalah Rp 4.500/liter, sementara harga BBM non-subsidi (harga keekonomian) yang berlaku bagi sektor industri ialah Rp 8.500/liter. Celah ini potensial menyebabkan maraknya penyimpangan dan semakin menyuburkan budaya kolusi. Kita tidak perlu heran jika mendengar berita tentang penangkapan kendaraan tangki Solar yang kerjanya cuma mondar-mandir dari SPBU ke tempat penampungan solar yang selanjutnya akan dijual ke Industri. Apalagi di tengah longgarnya penegakan hukum di Indonesia, praktik merugikan seperti ini semakin sering terjadi. Sehingga dalam skala yang lebih luas dapat menimbulkan praktik penyelundupan BBM ke luar negara.

Banyak penelitian juga telah membuktikan bahwa subsidi BBM mayoritas justru dinikmati golongan mampu. Logikanya pun sederhana, karena golongan mereka paling banyak memiliki kendaraan. Satu rumah tangga bisa memiliki 3 mobil dan 2 motor. Efek lain dari sangat murahnya harga BBM ialah pola hidup yang konsumtif, boros, dan tidak mendidik masyarakat untuk menghargai lingkungan dan menyadarkan mereka betapa semakin langkanya minyak bumi ini. Inilah yang menyebabkan mengapa pengembangan energi alternatif seperti gas dan bahan bakar Biofuels tidak berkembang di negara kita, karena masyarakat “sudah dimanjakan” dengan BBM subsidi yang murah. Dan berdampak terhadap sulitnya pemerintah membuat strategi jangka panjang untuk mengalihkan BBM konvensional ke bahan bakar khusus.

Kebijakan Menaikkan Harga BBM Bersubsidi?
Saat ini APBN kita makin tercekik akibat makin tingginya harga ICP yang berada di atas asumsi APBN 2011 yang sebesar 80 dollar AS per barelnya. Celakanya, ini juga dibarengi dengan menurunnya lifting (minyak mentah siap jual) yang kita produksi. Sehingga ada dua komponen yang membebani APBN, dan sudah bisa dipastikan bahwa tahun ini defisit APBN akan semakin besar. Pilihan mengurangi subsidi BBM dan menaikkan harga BBM bersubsidi merupakan solusi jangka pendek yang patut dipilih untuk meringankan beban APBN, misalnya dengan menaikkan sebesar 10 persen dari harga saat ini (Rp 4.500 per liternya). Yang penting subsidi BBM tidak sama sekali dihilangkan, atau harga BBM tidak murni dilepas ke harga pasar. Sebab ini juga akan membebani masyarakat.

Mempertahankan harga BBM bersubsidi di tengah perkembangan harga minyak dunia yang makin membumbung tinggi saat ini sama saja dengan bunuh diri. Kalau pun harga BBM tidak dinaikkan sekarang, kenaikan harus dilakukan tahun depan. Jadi sebenarnya cuma soal waktu saja. Kebijakan menaikkan harga BBM ini sebenarnya lebih baik daripada pemerintah harus kembali berutang dengan menerbitkan obligasi atau mengorbankan alokasi anggaran yang lain seperti infrastruktur, maupun subsidi langsung ke rakyat seperti pendidikan dan kesehatan. Kebijakan menaikkan harga BBM bersubsidi ini juga lebih baik, daripada negara harus memilih kebijakan membatasi produksi Premium, seperti wacana yang tempo hari didengungkan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral.

Selama ini mindset kita telah dibentuk ke dalam pemahaman yang salah terhadap subsidi BBM. Banyak orang sangat sensitif dengan tema ini, di mana jika harga BBM naik, harga-harga akan naik, kemiskinan semakin banyak. Padahal, asumsi demikian hanyalah asumsi di mana faktor lain tidak berubah. Selama faktor lain mampu berubah, misalnya dana subsidi BBM dialihkan kepada program pengentasan kemiskinan dan kompensasi bantuan langsung tunai (BLT) bagi masyarakat tidak mampu, efek negatif dari kenaikan harga BBM tidak sedramatisir yang selama ini kita ditakutkan. Banyak penelitian menemukan bahwa besarnya subsidi BBM inilah yang menyebabkan daya saing produk kita kalah dengan negara lain karena pengusahanya dimanjakan. Sementara kesenjangan distribusi pendapatan makin melebar di mana yang kaya makin kaya dan kaum miskin makin miskin.

About these ads

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s