Krisis Global, Peluang, dan Anjloknya Daya Saing Indonesia

Oleh rian121285

Ketika krisis global melanda dunia pada pertengahan tahun 2008, perekonomian Indonesia tetap tumbuh positif  4,3 %. Ini menjadi suatu hal yang ajaib, sekaligus aneh, mengingat negara tetangga di wilayah Asia Tenggara seperti Vietnam, Filipina, Malaysia, dan negara semaju Singapura, justru mengalami pertumbuhan negatif. Apa yang membuat Indonesia bisa sebaik itu pertumbuhannya? Mengapa dampak krisis global di Indonesia paling minimal?
Penjelasannya ternyata sederhana, karena ekspor kita porsinya kecil. Sehingga dampaknya terhadap perekonomian juga kecil. Tentu saja ini juga lebih akibat faktor keberuntungan (good luck). Kita sebenarnya ingin meningkatkan ekspor, akan tetapi jika dilihat dalam volume perdagangan, sebenarnya ekspor kita cukup kuat, yang jatuh sebetulnya adalah harga barang-barang ekspor kita. Dalam hal ini daya saing barang produk kita kalah dengan produk sejenis dari negara tetangga.
Pertanyaannya, kalau ekspor kita kecil, lantas faktor mana yang mendorong pertumbuhan bisa positif? Jawabannya adalah konsumsi rumah tangga kita yang mencapai 60% dari PDB. Masyarakat kita, memang selama ini konsumtif, gemar belanja, gemar menghamburkan uang. Bahkan jika pemerintah tidak melakukan intervensi apapun, sebenarnya pertumbuhan ekonomi bisa saja mencapai 3,5%. Itu hanya dari konsumsi saja.
Namun demikian, bukan berarti dampak krisis global sama sekali tidak membahayakan perekonomian domestik. Karena kita juga merupakan pemain di pasar global, meskipun pemain kecil (small economy), maka sektor ekonomi yang terpukul pada saat krisis adalah manufaktur. Hal ini bisa dengan mudah kita baca, mengingat industri manufaktur merupakan industri yang bahan bakunya bergantung impor.
Indikator nyata bisa kita lihat dari sisi PPN (pajak pertambahan nilai) yang menunjukkan transaksi barang. PPN itu ada dua yaitu PPN impor dan domestik. Data Strategis BPS tahun 2008, menunjukkan bahwa PPN impor kita 90% isinya untuk pembelian mesin dan bahan baku. Jadi, kita patut senang jika angka impor PPN ini naik. Mengapa? Karena itu pertanda bahwa ekonomi kita tumbuh. Karena perusahaan-perusahaan mulai beli bahan baku dan mesin, artinya dia memproduksi, artinya ada lapangan kerja baru yang tersedia. Tidak mungkin perusahaan membeli bahan baku hanya untuk disimpan (stok). Sayangnya pada saat krisis global melanda, PPN impor ini turun tajam. Bahkan sangat tajam. Ini menandakan bahwa permintaan impor menurun, dan dengan sendirinya memperlihatkan gejala deindustrialisasi (penurunan produksi industri). Sementara sektor yang paling kecil terkena dampak krisis sangatlah gampang ditebak, yaitu sektor yang tidak ekspor dan impor. Biasanya adalah industri makanan dan minuman.
Dua Sisi Mata Uang: Menjadi Pemain Domestik atau Pemain Global?
Singkat cerita, ekonomi kita sebenarnya terbantu banyak oleh perekonomian domestik. Inilah yang membantu kita lolos dari tsunami krisis global. Sebuah ekonomi yang berorientasi domestik, maka dampak krisis akan sangat kecil. Boleh dikatakan aman. Pertanyaan yang menggelitik untuk diajukan adalah, kalau begitu mengapa kita ikut globalisasi, mengapa harus mengekspor? Mengapa kok kita mau ikut perdagangan bebas? Seharusnya kebijakan ekonomi kita akan lebih baik jika domestic oriented saja. Toh, buktinya kita bisa terhindar dari krisis! Tapi apakah argumentasi itu benar?
Sebenarnya, negara yang bergantung kepada ekonomi domestik itu tidak hanya Indonesia saja. Ada kecenderungan, negara yang ada sekarang, jika semakin domestik, pertumbuhannya makin tinggi. Namun, ketika krisis global mereda dan ekonomi global mulai tumbuh dan membaik, apakah perekonomian Indonesia akan ikut terbantu? Jawabannya adalah tidak. Karena kita bukan bagian dari global. Kita hanya pemain kecil, dengan porsi ekspor kecil. Artinya ini dua sisi mata uang. Ketika sekarang ekonomi global baik, kita tidak mendapat manfaat yang banyak. Ekonomi kita memang tumbuh, tapi sangat kecil. Singapura misalnya, tahun 2009 saja, pertumbuhan antar kuartalnya (4 bulanan) adalah 20%, sementara Indonesia cuma 3%. Jadi sebenarnya sekarang adalah bagaimana caranya kita memperkuat perekonomian domestik, namun sekaligus juga mendukung dan meningkatkan ekspor.
Sayangnya untuk menjadi pemain ekspor, pemain di pasar global, daya saing kita juga harus baik. Sebab, semua negara juga melakukan hal yang sama. Dalam perdagangan internasional, atau di pasar dunia, barang dan jasa yang ditransaksikan dipengaruhi oleh dua faktor penting: kualitas dan harga. Di sinilah daya saing menjadi faktor utama. Sayangnya hampir sepanjang tahun 2001 hingga 2009, daya saing produk kita semakin menurun.
Daya Saing yang Memburuk, Sampai Kapan?
Berdasarkan badan pemeringkat daya saing dunia, IMD World Competitiveness Yearbook 2006, posisi daya saing Indonesia sangat menyedihkan. IMD World Competitiveness Yearbook (WCY) adalah sebuah laporan mengenai daya saing negara yang dipublikasikan sejak tahun 1989. Pada tahun 2000, posisi daya saing Indonesia menduduki peringkat 43 dari 49 negara. Tahun 2001 posisi daya saing Indonesia semakin menurun, yaitu menduduki peringkat 46. Selanjutnya, tahun 2002 posisi daya saingnya masih menduduki posisi bawah, yaitu peringkat 47. Lalu, tahun 2003, posisi daya saingnya malah makin terpuruk, yaitu menduduki peringkat 57. Tahun 2004 menduduki peringkat 58. Tahun 2005 Indonesia menduduki posisi 58. Tahun 2006 Indonesia telah menduduki posisi 60.
Faisal Basri, dalam buku Catatan Satu Dekade Krisis: Transformasi, Masalah Struktural, dan Harapan Ekonomi Indonesia, senada menggambarkan betapa melorotnya daya saing kita hingga sepanjang 2007. Menurutnya penurunan daya saing di Indonesia mencerminkan kondisi memprihatinkan, mengingat di saat negara tetangga seperti Malaysia dan Thailand mengalami kemajuan yang pesat, Indonesia justru mengalami kemunduran.
Seperti yang disampaikan di awal, sebenarnya ekspor kita cukup kuat, yang jatuh sebetulnya adalah harga barang-barang ekspor kita. Dalam hal ini daya saing barang produk kita kalah dengan produk sejenis dari negara tetangga. Apa yang membuat daya saing kita sedemikian melorot? Karena keterbatasan akses, infrastruktur yang buruk (bahkan nihil di beberapa daerah), yang mengakibatkan tingginya biaya logistik. Bayangkan harga semen di Nabire, Papua Barat, bisa mencapai Rp 1 juta. Bahkan harga bensin di sana, konon mencapai Rp 50 ribu/liter. Tentang produk impor kita juga cukup mahal. Waktu yang dibutuhkan kapal masuk ke pelabuhan itu 81,9 jam, jadi sekitar 3,5 hari. Waktu efektif untuk menaikkan dan menurunkan barang 36 jam, sekitar 1,5 hari. Totalnya sekitar 5 hari. Bayangkan jika barangnya adalah non-durable goods, alias barang yang tidak tahan lama, seperti buah, sayur, udang. Akibatnya produk kita menjadi tidak layak jual, lantas siapa yang berkenan melakukan impor dengan resiko demikian. Perdagangan menjadi sangat tidak efisien. Alih-alih, daya saing semakin tergerus.
Negara kita secara komparatif memiliki banyak keunggulan. Hasil alam seperti migas, agribisnis, agroindustri, dan bahan baku setengah jadi merupakan keunggulan yang sulit disaingi. Banyak juga produk kita yang punya kemampuan bersaing secara internasional. Kijang Innova, misalnya, bisa dikatakan produksi nasional. Karburator mobil mewah Mercedes, ternyata buatan Probolinggo, Jawa Timur. Negara ini juga memiliki para ahli enginering yang hebat. Namun, keunggulan komparatif haruslah dibarengi dengan faktor penunjang. Jika faktor ini tidak dibenahi, sampai kapanpun daya saing kita anjlok.
Dalam berencana kita harus mengandalkan perencanaan yang futuristik, jangan hanya berpikir jangka pendek. Pembangunan infrastruktur penunjang kegiatan ekonomi di Cina saja telah dimulai sejak era Deng Xiao Ping pada tahun 80-an, bahkan jauh hari sejak jaman Mao Ze Dong. Prasarana seperti jalan, listrik, telekomunikasi, dan air, merupakan variabel vital yang menunjang kelancaran aktivitas ekonomi/bisnis. Selanjutnya pemerintah Cina juga merombak aspek kelembagaan, dengan menyederhanakan aturan. Kita harus meniru perencanaan seperti Cina. Fokus saja pada satu hal, tidak usah membicarakan hal-hal yang membuang waktu kita selama bertahun-tahun usai reformasi tanpa menghasilkan apa-apa. Tidak perlu juga membangun gedung baru untuk DPR, yang menghabiskan dana rakyat sekitar Rp 700 miliar (setelah sebelumnya dianggarkan Rp 1 triliunan). Inilah nasib bangsa yang hanya berpikir sesaat, yang lebih mementingkan gedung mewah daripada akses jalan dan pelabuhan vital penunjang eksistensi ekonomi nasional.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s