Ketika “Ego” Menyingkirkan Kebersamaan: Catatan Dari Kisruh Kongres PSSI, 20 Mei 2011

By rian121285

Dalam ilmu sosiologi ada dua tipe masyarakat yaitu gemeinschaft dan gesselschaft. Masyarakat gemeinschaft sarat dengan nilai kekeluargaan, kebersamaan, tolong menolong. Sementara, masyarakat gesselschaft cenderung individualistis, egois, dan mengindahkan nilai kekeluargaan. Ada beberapa bangsa yang dikategorikan masyarakat gesselschaft, tetapi bukan Indonesia.
Kebersamaan sebagai bangsa, gotong royong, kekeluargaan, tolong-menolong, merupakan ciri khas negeri kaya sumber daya alam ini. Dalam buku baru karya Yudi Latif, berjudul Negara Paripurna, jelas sekali bahwa Pancasila itu merupakan pencerminan dari heterogenitas bangsa yang bhineka untuk bersatu. Dan Pancasila adalah instrumen bagi kita semua untuk menghargai perbedaan agar terhindar dari konflik dan perseteruan. Bangsa Indonesia, adalah bangsa timur, yang menjunjung nilai-nilai, pribadi santun, serta menempatkan kepentingan bersama lebih penting dibandingkan kepentingan orang per orang. Jadi kategori masyarakat kita ini lebih ke gemeinschaft sebagaimana yang tercermin dari falsafah Pancasila.
Tapi lihatlah kongres PSSI kemarin (“20 Mei 2011”). Penuh dengan interupsi, caci maki, dan sikap mau menang sendiri. Kita tidak melihat suatu bangsa yang bisa bekerjasama dan memahami perbedaan. Jangankan persatuan, justru sikap dan kata yang terlontar rentan menyulut perpecahan. Kita tidak melihat suatu bangsa yang gemeinschaft. Kita justru disuguhkan suri tauladan yang buruk: “egoisme kelompok yang jelas-jelas memaksakan kehendak untuk mengusung agenda tertentu bagi nama calon tertentu (yang sudah ditolak FIFA)”. Kongres yang merupakan arena resmi yang diamanahkan FIFA melalui Komite Normalisasi untuk memilih Ketua Umum PSSI yang baru, berakhir dengan tragedi kericuhan dan penutupan kongres tanpa menghasilkan keputusan apapun. Tragis.
Tapi memang inilah pemandangan demokrasi negeri ini. Mulai dari tingkat yang paling atas, seperti di legislatif (DPR juga DPRD) dan pemilihan kepala daerah, hingga level paling bawah seperti pemilihan Kepala Desa atau pemilihan Ketua Umum Lembaga Kemahasiswaan yang ecek-ecek pun, perdebatan yang berujung dengan kericuhan bahkan baku pukul kerap terjadi. Sehingga pertanyaannya ialah: Sebenarnya apakah kita ini sebagai bangsa sudah siap untuk berdemokrasi? Dengan kata lain, apa kita ini sebagai bangsa sudah siap berbeda pendapat, menerima perbedaan, dan saling mengalah untuk menjunjung tinggi kepentingan bersama demi menghasilkan keputusan yang terbaik bagi kemaslahatan yang lebih luas. Yang ada, kita sering terjebak oleh kepentingan jangka pendek yang sesaat, bukan jangka panjang yang permanen.
Sepak bola adalah hiburan bagi rakyat, yang gratis, sehat, dan siapa saja menyukainya. Atlet sepak bola bermain bola, mereka yang tidak bisa bermain bola juga bermain bola, anak-anak bermain bola, mereka yang sibuk pasti tetap menyempatkan diri menonton bola, bahkan Presiden SBY pun juga ikut larut menonton bola. Tapi selama sepak bola masih dikelola dengan “ego”, maka sampai kapan pun cita-cita kita melihat Tim GARUDA berlaga di kancah internasional seperti World Cup, cuma sekadar menjadi mimpi di siang bolong!
Di tengah semakin sulitnya mencari pekerjaan, tingginya harga-harga barang kebutuhan pokok, melambungnya biaya hidup, dan muaknya kita dengan perilaku wakil rakyat yang kerap tidak mempedulikan suara rakyat (malah suka pelesiran tanpa hasil yang konkret), mungkin cuma sepak bola ini yang bisa membangkitkan nasionalisme kita sebagai bangsa Indonesia. Karena sepak bola itu universal, membumi, dan membahagiakan. Jangan biarkan kebahagiaan kita dirampas oleh egoisme kelompok. Karena kebahagiaan itu tak ternilai harganya.

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s