Mempertahankan Imunitas Ekonomi

TAHUN 2012 telah memulakan dirinya, di tengah hiruk-pikuk krisis ekonomi yang melanda dunia. Eropa hingga saat ini masih berjibaku keluar dari krisis akibat terbelit hutang. Badai krisis Eropa ini menekan stabilitas perekonomian negara besar lainnya seperti Amerika Serikat dan Jepang.

Kalau kita cermati perkembangan, tampak jelas bahwa core ekonomi dunia saat ini telah bergeser ke negara-negara emerging market (Cina, India, Asia). Hegemoni AS, Eropa, dan Jepang telah mengalami kemunduran yang pesat. Mitra dagang telah beralih ke pasar-pasar di Cina, India, Indonesia, dan negara Asia seperti Turki. Mereka menjadi pasar sekaligus eksportir, dengan tingkat pertumbuhan ekonomi di atas 6 persen, jauh melebihi apa yang sekarang terjadi di Eropa, AS, dan Jepang.

Di ASEAN, perekonomian Indonesia bahkan mampu tumbuh konsisten di atas 6 persen sejak 2007. Tahun 2011 laju pertumbuhan 6,5 persen dan ditargetkan tumbuh sebesar 6,7 persen pada tahun 2012. Dampak krisis hampir tidak berpengaruh sama sekali terhadap konsumsi dan daya beli masyarakat. Indonesia juga mendapatkan predikat grade rating investasi versi Fitch dan Moodys pada tahun 2011. Apakah ini bisa menjadi awal yang cerah bagi masa depan perekonomian Indonesia di tahun 2012 dan seterusnya?

Imunitas Ekonomi

Kendati perekonomian Indonesia dapat bertahan di tengah badai krisis, kita tidaklah kebal dari krisis. Tendensi perdagangan dunia yang melamban beberapa waktu terakhir, misalnya, telah mengakibatkan ekspor kita menurun di awal tahun 2012. Jika krisis dunia ini terus berlangsung dalam tempo panjang, dibarengi dengan gejolak geopolitik di Iran, yang memicu kenaikan harga minyak mentah dunia, perekonomian kita dipastikan akan sangat rentan terjungkal.

Pemerintah harus melakukan beberapa antisipasi dalam memperkuat imunitas ekonomi terhadap badai krisis. Pertama, menjaga stabilitas ekonomi makro melalui kebijakan fiskal yang prudent dan kebijakan moneter yang harmonis. Salah satu isu yang paling rawan saat ini ialah terkait langkah fiskal mengenai skema subsidi BBM. Hampir sepertiga dana APBN dialokasikan untuk subsidi BBM. Sehingga, keputusan terbaik terhadap skema BBM ini (apakah dengan membatasi atau menaikkan harga BBM) menjadi titik krusial bagi penyelamatan ekonomi bangsa di tengah ketidakpastian suasana internasional belakangan.

Kedua, menjaga ketahanan pangan. Ada banyak kegagalan kebijakan dalam memenuhi target kedaulatan pangan strategis yang menjadi komoditas penting rakyat. Seperti beras, kedelai, gula. Gangguan sisi penawaran terhadap komoditas tersebut sangat sensitif terhadap kenaikan harga dan menjadi ancaman besar bagi terciptanya kemiskinan baru. Ketiga, ialah menjaga ukuran dari perekonomian domestik. Kalau kita cermati laporan WEF (world economic forum) terbaru, variabel permintaan domestik Indonesia berada di ranking 15 dari sekitar 110 negara. Hampir setiap tahun, kalangan menengah (middle class) di Indonesia tumbuh 6 – 7 juta orang, yang berarti daya beli masyarakat kita juga meningkat. Jadi, dengan menjaga size dari domestic demand ini, pertumbuhan ekonomi kita bisa terus tumbuh positif setidaknya di level 4-5% (itu dari kekuatan permintaan lokal saja). Reaksi ini dapat membuat investor beralih ke pasar domestik. Perilaku ini, jika berjalan secara simultan, akan membantu kita selamat dari krisis.

Hambatan Struktural

Kalau dilihat dari struktur investasi di Indonesia, tahun 2011 merupakan tahun terbaik. Total dana investasi baik yang bersumber dari PMA maupun PMDN mencapai lebih dari Rp 250 triliun. Mayoritas investasi PMA, beroperasi di sektor transportasi, telekomunikasi, pertambangan, dan listrik, gas, air. Sementara aliran PMDN umumnya masuk ke sektor tanaman pangan dan perkebunan, di wilayah-wilayah luar Pulau Jawa-Bali. Efek aliran investasi ini berimplikasi pada kinerja industri non-migas yang meningkat lebih dari 6 persen tahun 2011.

Penggerak pertumbuhan industri non-migas yang bersifat padat modal kini didominasi kegiatan industri logam dasar, besi, baja. Sementara yang karakteristiknya padat tenaga kerja disumbang oleh industri makanan minuman dan tembakau, alat angkut, mesin peralatan, tekstil barang kulit dan alas kaki. Di masa orde baru kinerja industri non-migas mencapai pertumbuhan 10 persen. Jadi prestasi ini perlu didorong lebih cepat lagi.

Dampak investasi ini memperbaiki pula komposisi kesempatan kerja formal dan informal, dengan share 63 persen (informal) dan 37 % (formal). Meskipun kesempatan kerja informal masih jauh lebih besar, namun sektor formal sudah lebih baik dari 4 tahun lalu yang hanya sebesar 30%.

Hambatan struktural yang patut dituntaskan yaitu ekonomi biaya tinggi yang dihadapi investor/pengusaha. Dua isu yang paling sentral ialah konstelasi upah minimum buruh dan spread suku bunga di Indonesia yang masih tinggi. Kesenjangan antara suku bunga kredit dan suku bunga dana pihak ketiga cukup lebar, yang menandakan bahwa industri perbankan di Indonesia masih mengambil keuntungan dalam jumlah besar. Di level ASEAN, net interest margin perbankan di Indonesia menempati level tertinggi (6 persen), jauh dari rata-rata negara lain yang berada di level 3 persen. Memang secara tren, spread suku bunga ini memang menurun. Namun, tren penurunannya sangat lambat. Kabar gembiranya, penyaluran kredit bank umum mengalami peningkatan sejalan dengan meningkatnya aktivitas perekonomian.

Kekhawatiran lain, yaitu hambatan inflasi. Kalau kita amati secara jeli, ketika perekonomian Indonesia tumbuh di level 6 persen, maka inflasi hampir tidak pernah berada di bawah 6 persen. Ini berarti jumlah produksi masih lebih sedikit dari jumlah permintaan. Jadi situasi ini perlu dibalik atau diseimbangkan, agar pertumbuhan tidak selalu lebih rendah dari inflasi. Karena hanya akan membuat pertumbuhan ekonomi menjadi semakin tidak sehat.

(sumber data: BPS 2011, Bappenas 2012; OECD 2011, The World Bank 2011)

Leave a comment

Filed under Uncategorized

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s